Mobil Penyidikan BPOM: Mengejar Pemalsu Obat Sampai Daerah Terpencil

Diposting pada
Terima Kasih untuk Berbagi

GERAK pembuat obat palsu, obat tanpa izin (ilegal) atau obat yang menyalahi aturan kesehatan terus dipersempit. Kini, aparat bidang pengawasan makanan dan obat dilengkapi dengan mobil penyidikan.

Mobil ini fungsinya untuk memperkuat penegakan hukum terkait pelanggaran dalam bidang makanan dan obat-obatan.

“Mobil penyidikan ini merupakan tempat khusus yang bersifat `mobile` dalam melakukan kegiatan dalam rangka proses projustitia tindak pidana bidang obat dan makanan,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito di Jakarta seperti dikutip kantor berita Antara.

Ada 10 mobil penyidikan yang diserahkan kepada kantor BPOM di daerah. Di antaranya Pusat Penyidikan Obat dan Makanan, Balai Besar POM di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Banjarmasin, Pekanbaru, Makassar dan Balai POM di Serang.

Menurut Penny Lukito, kehadiran mobil tersebut menjadi salah satu terobosan peran penegakan hukum di bidang obat dan makanan. Pengadaan mobil penyidikan BPOM terutama diberikan kepada wilayah yang sulit terjangkau atau membutuhkan penanganan yang segera.

Mobil penyidikan itu adalah bagian dari penguatan penindakan dari BPOM terhadap pelanggaran terkait obat dan makanan.

Baca: 7 Cara Praktis dan Murah untuk Mengobati Diabetes Melitus

Fungsi Mobil Penyidikan untuk Menjangkau Daerah Sulit

obat ilegal

pemusnahan obat ilegal di Semarang (foto:solopos.com)

Dijelaskan, pengadaan mobil penyidikan obat dan makanan ini sejalan dengan kehadiran Deputi Bidang Penindakan. Deputi ini didirikan pada tahun 2017 berdasar pada Peraturan Presiden Nomor 80 tahun 2017 tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Pembentukan Deputi Penindakan ini untuk mengoptimalkan koordinasi diantara aparat penegak hukum dalam upaya mencegah, menangkal dan memberantas tindak pidana obat dan makanan.

Apa tugas atau fungsi mobil penyidikan? Tugasnya antara lain pengambilan berita acara pemeriksaan saksi dan atau tersangka, penyelesaian beberapa administrasi penyidikan hingga uji cepat beberapa barang yang diduga ilegal.

Mobil penindakan ini juga dilengkapi dengan kamera pengawas (CCTV) yang bisa merekam seluruh aktivitas PPNS dalam pemeriksaan saksi/tersangka. Dengan CCTV, seluruh tindakan yang dilakukan petugas bisa dipertanggungjawabkan secara profesional.

Ke-10 BPOM yang menerima bantuan mobil penyidikan adalah BPOM yang mempunyai wilayah dengan pelanggaran terbanyak. Selain itu, tingkat kesulitan untuk menjangkau semua daerah di bawah kewenangannya cukup tinggi.

Direncanakan nantinya setiap balai besar atau balai POM di seluruh Indonesia memiliki mobil penyidikan. Fungsi mobil penyidikan untuk memperlancar proses penegakan hukum di bidang obat dan makanan.

Sampai Oktober 2017 tercatat ada 212 kasus pelanggaran di bidang obat dan makanan. Terbanyak adalah pelanggaran berkaitan dengan obat tradisional tanpa izin edar (TIE) atau obat ilegal.

“Badan POM berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan. Tidak hanya di kota-kota besar. Tetapi sampai wilayah terpencil di seluruh pelosok Indonesia dalam usaha menjamin keamanan, khasiat, dan mutu obat dan makanan yang beredar,” tutur dia.

Data Pemberantasan Obat Ilegal dan Aksi Nasional Oktober 2017

Berikut ini dikutipkan data tentang penemuan obat-obat ilegal yang ternyata masih marak di Indonesia. Oleh karena, Anda harus hati-hati dengan penggunakaan obat yang diduga ilegal.

1. Januari 2014: Ditemukan bahan baku ilegal Carisoprodol di Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara. Jumlahnya 195 tong @25 Kg (4.875 Kg)

2. September 2016: Ditemukan 42 juta tablet ilegal Carnophen, Trihexyphenidyl (THP), Tramadol, dan Dekstometorfan di Balaraja — Banten. Obat ilegal 60 truk senilai Rp 30 miliar itu akhirnya dimusnahkan.

3. Juli 2017: Operasi terpadu pemberantasan penyalahgunaan obat menyita obat-obat ilegal senilai Rp 3,1 miliar. Operasi dilakukan di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Mataram, Denpasar, Makassar, Serang, dan Palangkaraya.

4. September 2017: Operasi gabungan di Banjirmasin menemukan 436 koli atau 12 juta butir obat ilegal. Yaitu, Carnophen, Trihexyphenidyl (THP), Tramadol, dan Seledryl. Nilainya adalah 43,6 miliar.

Untuk memberantas peredaran obat ilegal yang sangat merugikan masyarakat, pada 3 Oktober 2017 lalu telah dicanangkan aksi nasional pemberantasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat.

Aksi yang sama juga dilakukan di semua provinsi se-Indonesia. Aksi ini sekaligus untuk mendukung komitmen Presiden Joko Widodo yang menyatakan perang terhadap narkoba.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda semua.